Sosok / Berita

Budi Sikumbang Setia Melindungi Penyu di Pantai Sorkam Tapteng

akurat logo
Damai Mendrofa
Senin, 05 Februari 2018 16:45 WIB
Share akurat gplus
 
Penangkaran Tukik (bayi penyu) di Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Penangkaran Tukik (bayi penyu) di Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah.
(FACEBOOK/Budi Sikumbang)

AKURAT.CO, Lautan Teluk Tapian Nauli dan pantai di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menyimpan banyak harta terpendam yang patut mendapatkan perhatian dari seluruh pihak.

Salah satunya keberadaan Penyu yang diprediksi telah menjadikan pantai di kabupaten di pesisir barat Sumut ini menjadi habitat untuk berkembang biak sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Dugaan ini bukan tanpa data dan alasan. Penyu memang sejak puluhan tahun silam secara musiman terlihat menggali sarang-sarangnya dan meletakkan telurnya khususnya di sepanjang pantai Binasi yang terletak di Kecamatan Sorkam Barat.

“Tidak saja di pantai Binasi, sampai pantai Sorkam, pak Wali Kota Sibolga (Syarfi Hutauruk-red) juga tahu, penyu disini berjenis ada dibilang Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Tempayan dan Penyu Katung Langit,” tutur Kordinator Kelompok Masyarakat Konservasi Pantai Kelurahan Binasi, Budi Sikumbang dihubungi AKURAT.CO lewat telepon,  Minggu (3/2).

Sayangnya habitat Penyu ini dalam keterancaman. Budi dan kelompoknya sejak 2013 silam akhirnya memutuskan mendirikan kelompok pegiat lingkungan. Orientasinya jelas, melindungi habitat Penyu dengan melakukan penangkaran terbuka dan monitoring secara berkala setiap musim bertelur tiba.

“Dijaga sarang, malam, monitoring kalau dapat kita pindahkan ke penangkaran, kalau ada warga menemukan kita bayar harganya Rp2.000 per telur,” terang Budi.

Meski dijaga secara ketat dengan monitoring dan himbauan tegas, aksi pencurian telur agaknya masih terjadi dan terus menyumbang angka penurunan sarang telur dari tahun ke tahun. Menurut Budi, biasanya setiap tahun dalam rentang musim bertelur yakni November hingga Maret, tercatat sebanyak 38 penyu membangun sarangnya. Tapi kini jumlah itu menurun drastis menjadi 12 sarang.

Budi mengaku pencurian dan penjualan telur penyu yang terjadi di Kota Sibolga juga sudah dilaporkan ke instansi terkait meski masih secara lisan. Pihaknya juga sudah mengeluarkan sikap penolakan aktifitas pukat trawl. Karena menurut Budi, aktifitas pukat itu juga sangat mengusik habitat dan kehidupan penyu.

“Kami sekarang tanda tanya besar, ini hanya waktu (tinggal) bulan 3 (Maret-red) saja dari bulan November, kemana sih sebagian sarang lain?” ungkap Budi.

Para pelaku menurut Budi agaknya tak pernah jera dan tak berhenti melakukan pencurian bahkan di lokasi yang sudah dijadikan sebagai penangkaran terbuka oleh kelompok ini.

“Yang kita tangkarkan saja dicuri, sekarang tapi kita belum ada fasilitas untuk penangkaran baik itu rumah, pos jaga, sekarang penangkaran terbuka yang disembunyikan, di belakang pemukiman juga (Penyu) mau naik (membangun sarang-red), tapi kami tidak bisa berbuat,” katanya.

Aksi melawan hukum ini diduga didorong ketidakpedulian aparatur pemerintah setempat. Menurut Budi, ia dan rekan-rekannya sejak mendirikan kelompok itu dicap sebagai orang gila dan tanpa kerjaan.

“Otomatis lawan kami disini petinggi (aparatur pemerintah) disini, dibilang kami orang gila, kurang kerjaan, sekarang sampai sekarang masih sepele.,” beber Budi.

Kendati Budi mengaku dirinya dan kelompoknya yang sudah ber akte notaris serta sejumlah anggota tidak tetap lainnya tidak akan berhenti melakukan aksi penyelamatan Penyu. Buktinya ratusan ekor Tukik (bayi Penyu) akan dilepaskan ke lautan bebas, Senin (5/2).

“Ada 483 ekor Tukik berusia tiga minggu yang akan dilepas, pelepasan dari tiga sarang,” sebut Budi.

Perlawanan secara mental dan aksi pencurian yang masih terus terjadi ini menurut Budi membutuhkan sikap tegas. Ia mengaku, sepanjang menggiatkan perlindungan terhadap Penyu, dirinya dan kelompoknya menggalang dana secara swadaya dan mandiri.

Kutipan diberikan kepada setiap anggota secara variatif dari nilai terkecil Rp5 ribu hingga Rp50 ribu setiap kali anggota pulang bekerja dari laut. Karena itu, Budi mengaku sangat mengharapkan adanya perhatian dari pihak yang peduli dan pemerintah.

“Selama ini pepatah kami, ayam kehilangan induk, gak tahu mau ngadu kemana. Jadi kalau nanti ada yang peduli, (misalnya) kita berharap kepada pemerintah nanti bisa studi banding ke daerah lain untuk bisa mengetahui apa jenis penyu ini sebenarnya,” tuturnya.

Kepedulian ini menurut Budi sangat beralasan secara visioner, yakni sebagai warisan bagi anak cucu dan generasi di masa mendatang.

“Tempo hari, dan di zaman pak Syarfi kecil, melihat penyu itu gampang dan tidak takut pada manusia. Sekarang di zaman kami, begitu nampak Penyu, Penyunya lari, ini lah cara kami, selain itu kami juga berharap ini bisa menjadi ikon Tapteng, biar anak cucu kami ke depan juga tahu bawa penyu itu ada, jangan sampai (seperti) di pantai timur, dulu ada penyu sekarang sudah tidak ada lagi dan hanya bisa melihat penyu dengan nonton tv, kalau bisa kita kembalikan kenapa tidak?” urai Budi.


Editor. Islahuddin

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Pelindo III Revitalisasi Dermaga Pelabuhan Tanjung Intan

Senin, 26 Februari 2018 06:52 WIB

Pelabuhan Tanjung Intan memiliki potensi lahan pelabuhan yang masih luas guna pengembangan industri.


IHSG Diprediksi Terkoreksi Wajar

Senin, 26 Februari 2018 06:51 WIB

Terlihat pola three black crows candlestick pattern.


Bermain di Kolam Bekas Galian, Tiga Bocah Tewas Tenggelam

Senin, 26 Februari 2018 06:49 WIB

"Berdasarkan pemeriksaan tadak ditemukan tanda-tanda kekerasan di ketiga tubuh korban, Ini murni meninggal karena tenggelam,"


Walau Keluar dari TPP, AS Tunjukkan Kemesraan pada Australia

Senin, 26 Februari 2018 06:45 WIB

Trump mengatakan, AS lebih menyukai kesepakatan bilateral daripada multilateral.


KPU Biak Gelar Deklarasi Kampanye Damai

Senin, 26 Februari 2018 06:42 WIB

"Untuk jenis kegiatan kampanye tiga pasangan calon terdiri tatap muka, pertemuan terbatas hingga kampanye terbuka di lapangan,"


BNPB: Sebanyak 11 Orang Meninggal Akibat Longsor di Brebes

Senin, 26 Februari 2018 06:29 WIB

Berdasarkan laporan dari Posko Tanggap Darurat Bencana Longsor di Brebes, terdapat 11 korban meninggal dunia.


Banyak Perusahaan AS Kini Boikot National Rifle Association

Senin, 26 Februari 2018 06:15 WIB

Isu pengendalian senjata dan peran NRA yang menentangnya menjadi fokus perdebatan nasional.


Spider-Man Beri Selamat kepada Black Panther

Senin, 26 Februari 2018 06:10 WIB

Sejumlah prestasi telah ditorehkan Black Panther


Ketua MPR: Kita Lawan Mereka yang Ingin Merusak Persatuan

Senin, 26 Februari 2018 06:05 WIB

Jangan jadi penonton. Bersama-sama kita perkuat Indonesia kita.


Kemenangan PSG Atas Marseille Diwarnai Cedera Neymar

Senin, 26 Februari 2018 06:03 WIB

Neymar Jr mengalami cedera saat PSG menang atas Marseille.


BPBD: Hujan Lebat Akan Terjadi di Jakarta Hari Ini

Senin, 26 Februari 2018 05:46 WIB

Bagi para camat dan lurah di daerah rawan banjir dan longsor agar mengantisipasi keadaan itu.


Jadi Tersangka Gratifikasi, KPU Berhentikan Ade Sudrajat dari Jabatannya

Senin, 26 Februari 2018 05:23 WIB

KPU RI mulai hari Minggu ini, telah resmi memberhentikan sementara yang bersangkutan dari tugasnya sebagai penyelenggara pemilihan.


Griezmann Cetak Hat-trick, Atletico "Remukkan" Sevilla

Senin, 26 Februari 2018 05:07 WIB

Dengan raihan 58 angka, maka Atletico Madrid kini kembali berjarak tujuh angka di belakang Barcelona.


Pemblokiran Sepihak Instagram Bisa Jadi Momentum untuk Beralih ke Medsos Lokal

Senin, 26 Februari 2018 05:05 WIB

Media sosial lokal bisa menjadi solusi untuk menjalin hubungan yang setara antara pemilik platform medsos dengan pengguna.


Milan-nya Gattuso Permalukan Roma di Olimpico

Senin, 26 Februari 2018 05:03 WIB

Milan tak terkalahkan dalam 12 pertandingan terakhir dibawah asuhan Gennaro Gattuso.